Tradisi Rebo Wekasan di Pontren Suryalaya

Suara istighfar terdengar membahana di sekitar dusun Godebag,
"Astaghfirullohal 'adzim, 
Alladzi Laa Ilaaha Illaa Huwa Al Hayyu Al Qoyyum
Wa atuwbu ilayhi
Tawbatan 'abdi dzaalimin
Laa Yamliku Linafsihi
Dorron wa Laa Naf'an
Wa Laa Mawtan
Wa Laa Hayatan 
Wa Laa Hayatan Wa Laa nusuwra"
Nada minor yang menyayat mengiringi nadzom yg menggunakan bahasa Arab dan Bahasa Sunda.
"Abdi neda panghampura,
Ka Gusti Allah nu Agung, Ka Gusti Allah nu Agung
Teu aya deui pangeran, anging Allah, anging Allah
Anu Hirup anu Jumeneng ku anjeun
Abdi tobat ka Pangeran, Abdi tobat ka Pangeran
Seperti abdi nganiaya
Teu ngamilik diri abdi na pribadi
Teu ngamilik madhorotna
Teu ngamilik mangpaatna
Teu ngamilik kana maotna
Teu ngamilik kana hirupna
Teu ngamilik digelarna"
Nadzom yg berupa munajat itu disuarakan berulang-ulang, diikuti oleh jamaah. Entah sudah berapa kali nadzom itu disuarakan dari usai Subuh hingga saat Isyrok tiba. Isak tangis, suara-suara tercekat terdengar dari jamaah Masjid Nurul Asror yg padat. Saat waktu Isyroq, KH Drs. Sandisi, Imam Masjid Nurul Asror Pontren Suryalaya, menjelaskan tatacara Shalat Lidaf'il Bala yg dilaksanakan khususnya saat Rabu terakhir Bulan Shafar, yaitu "usai Al Fatihah di setiap rokaat, anda membaca Al Kaitsar 17 kali, Al Ikhlas 5 kali, Al Falaq dan An Nas 1 kali". Shalat sunnat Lidaf'il Bala sebanyak 2 rokaat. Usai salam, imam memimpin do'a yg berisi memohon perlindungan kepada Allah dari malapetaka dunia dan akhirat.
Kamar-kamar mandi masjid Nurul Asror yg terletak di sebelah Tenggara Masjid penuh sesak oleh orang yang akan mandi. Setiap bak mandi di kamar mandi laki-laki maupun kamar mandi perempuan sudah diisi dengan kertas tertulis huruf Arab yg merupakan simbol dari do'a tulak bala.


Di sebelah kanan kertas
"Sejak saya berada di Suryalaya di awal 70-an atas permintaan pangersa Abah, saya diminta abah untuk menulis di kertas yg nantinya akan di simpan di bak-bak pemandian. Semalaman saya menulis, kelak dibantu oleh adik-adik saya, dan saat Subuh kertas-kertas itu diminta kadang diperebutkan jamaah untuk disimpan di bak-bak pemandian di sumur atau di rumah mereka" kata KH. Umar Darowi. Saat ini, setelah ada tekonologi berupa mesin foto copy, maka penggandaan tulisan berupa simbol do'a tidak menyulitkan seperti dulu,
"Dulu saat saya kanak-kanak, belum ada kamar-kamar mandi seperti sekarang, yg ada adalah bak penampung air yg panjang, dan setiap orang yg lewat ke bak disiram oleh orang yg sedang mandi, sehingga Rebo Kasan adalah seperti pesta air" kata seorang Ibu. "Ada pula anak-anak yg iseng mengambil dan menyembunyikan kertas berupa simbol do'a, sehingga orang yg tadinya ingin mandi mengurungkan niatnya" kata Ibu itu pula.
Semoga kita semua terhindar dari malapetaka dan bahaya yang ada di dunia, dan semoga kita dapat menyiapkan amal baik untuk hidup kekal di akhirat kelak.


oleh: Drs. Asep Haerul Gani, Psikolog

sumber: https://web.facebook.com/asephaerulgani/photos_all

Previous
Next Post »