Toleransi perlu Empati dan Komunikasi

Mohon Stop Teriakan lewat Pengeras Suara Itu :
Toleransi perlu Empati dan Komunikasi

Mr. Flaming, ia adalah Operations Director asal Inggris. Ia pemeluk Kristen Gereja Anglican. Ia bergabung dengan perusahaan kami di tahun 2008. Kami menyiapkan rumah dengan peralatan lengkap di perumahan yang berada di daerah wisata Anyer dekat dengan titik Nol Anyer - Panarukan. Sebagai HR Executive saya berusaha membuatnya memahami adat istiadat dan budaya setempat yang mengenal 3 rumpun budaya, yaitu Sunda, Lampung dan Jawa Serang.
Usai 3 minggu ia bergabung dengan perusahaan kami, suatu pagi ia mampir ke ruangan saya,

"Pak Asep, dapatkah anda membantu saya untuk mendatangi masyarakat di sekitar rumah yang saya tinggali"
"Untuk apa Mr. Flaming ?"
"Untuk menstop orang yang berteriak-teriak menggunakan pengeras suara. Saya sangat terganggu betul"
"Kapan anda mendengarkan suara teriak-teriak lewat pengeras suara ?"
"Sejak hari pertama saya menginjakkan kaki di rumah "

"Berapa kali anda mendengarkan orang berteriak-teriak lewat pengeras suara itu ?"
"Kemarin saat Libur Sabtu Minggu, saya mendengarnya Lima kali "
"Jam berapa saja ?"
" Yang paling mengganggu itu Jam 04.35 itu sedang nyenyaknya tidur, kemudian jam 12.10, lalu jam 15.35, selanjutnya jam 18.05 , dan terakhir jam 19.15 "

"Apakah teriak-teriakan yang anda dengar adalah seperti ini ? Allahu Akbar- Allahu Akbar .... " Saya menirukan Adzan dengan lagam Anyer.
"Ya.... persis seperti itu ..!!!"
"Teriakan-teriakan lewat pengeras suara itu namanya ADZAN, itu ajakan untuk ummat Islam melakukan ibadah"
"Oh.... jadi fungsi teriakan-teriakan lewat pengeras suara itu sama dengan bunyi lonceng di Gereja ?"
"Ya. "
"Wah bila demikian tidak mungkin ya, saya meminta mereka menSTOP teriakan-teriakan ...mhhh ... apa itu .... ADZAN itu ?"
"Ya, Sama saja seperti saya seorang Muslim berkunjung ke London dan saat gereja membunyikan lonceng saya meminta petugas untuk menghentikan melakukan itu "
"Tentu mereka terusik ya ...?"
" Bisa terusik bagi yang merasa terganggu dan dianggap mencampuri urusan peribadatan mereka, namun bisa mafhum dan memberi pengertian dengan baik bagi yang tahu bahwa anda adalah orang yang tidak tahu dan tidak paham tradisi yang berlaku. Usai mengetahui hal ini apa yang akan anda lakukan Mr. Flaming ?"

"Saya mulai belajar menerimanya tanpa mengeluhkannya dan mempermasalahkannya"
"Apakah anda dapat melakukannya?"
"Ya, saya sangat yakin mampu melakukannya. Sekitar 5 tahun lalu saya pernah berkunjung ke Jakarta di Jalan Jaksa, menjadi turis backpackker, mulanya saya terganggu dengan suara yang muncul dari penjual Mie Tektek. Tak mungkin bagi saya melarangnya memukul skapula ke penggorengan, bukan? Saya berusaha menerima bunyi itu seperti menerima bunyi kipas angin yang berputar, dan menghentikan mengeluh, dan ternyata saya dapat tidur nyenyak"

Tak mudah untuk toleransi, apalagi bila diawali dengan prasangka. Untuk toleransi perlu empati dan keinginan berkomunikasi dari sudut pandang kawan bicara sehingga perlahan kawan bicara bersikap dari sudut pandang kita.

Pun Sapun Ampun Paralun
Asep Haerul Gani, Psikolog

sumber:
https://www.facebook.com/asephaerulgani/posts/1366128226737499



Previous
Next Post »