Toleransi dan Shaum

Toleransi dan Shaum
Anda melihat duri atau mawar?
Kata Toleransi itu arti dasarnya menahan sesuatu yang tidak nyaman.
Seorang ibu mentolerir rasa capeknya tubuh dan berat ngantuknya saat ia terbangun oleh tangisan bayinya untuk membuka popok, membersihkan najisnya, dan memasang popok yg baru. 
Babe Jeki yg bekas tuan tanah tapi ketipu sehingga hartanya ludes mentolerir rasa gengsinya dengan ngojeg di perempatan kampung utan demi anak bininya tetap bisa melanjutkan hidup. 
Agus Angkung mahasiswa ganteng dan cerdas mentolerir rasa tidak nyamannya memperoleh tatapan penuh tanda tanya saat ia sore hari berjualan candil, cendol, dan kolak untuk tajil.
Kata Toleransi dekat dengan makna Shaum. 
Dalam kata Toleransi ada makna Imsak dan Upawasa yaitu menahan. Bila Shaum dimaknai secara istilah sebagai Upaya menahan diri dari segala hal yang membatalkan sejak Terbit Fajar hingga matahari tenggelam, maka Toleransi dapat dimaknai upaya menahan diri dari segala hal yang mencederai keharmonisan sesama ummat manusia. 
Hakikat dari Shaum adalah diri menurunkan dan menghentikan pikir rasa ucap tindak tercela, dan melatih membina, meningkatkan dan mengajegkan pikir rasa ucap tindak mulya. Demikian pula maksud dari Toleransi dalam kehidupan antar ummat beragama, antar suku bangsa, antar generasi.
Toleransi hanya dapat terjadi dengan baik bila punya tujuan yg mulya. Si Ibu rela menahan diri rela tidak nyaman karena Cinta pada buah hatinya. Babe Jeki rela menahan gengsinya karena Cinta kepada anak bininya. Agus Angkung rela mendapatkan tatapan aneh karena Cinta dengan masa depannya untuk memastikan dirinya sekarang ke depan maju.
Toleransi membuat si Merah tetap nyaman dengan kemerahannya, dan membolehkan si Putih nyaman dengan keputihannya. 
Saat si Merah memutih atau si Putih memerah dalam agama namanya sinkretis, dan Sinkretis bukanlah toleransi. Bukan Toleransi pula saat Si Merah memaksa si Putih untuk memerah laksana si Merah. Bukan Toleransi pula saat si Putih gunakan hegemoni agar si Merah bersedia menjadi memutih bak Si Putih. Toleransi ibarat lembar kain merah yg dijahit almarhumah Ibu Fatmawati dengan kain putih, jelas batasnya, disatukan menjadi Bendera, dan tahu posisinya masing-masing, dan bersinergi satu dengan lain, dan berkibar dengan indahnya saat sang angin meniup.
Menarik mencermati isu toleransi akhir-akhir ini yang berseliweran di dunia media sosial, yang punya kekhasan tanpa konfirmasi, tanpa cek ricek, tanpa melihat dari semua sisi. Entah apa agenda yg ada di belakang media baik mainstream, medsos, dan para pembuat meme. Alih-alih sikap toleransi itu terbangun, malah sikap intoleransi yang terpicu. Alih-alih akhlak mulya tercipta, malah akhlak tercela menjelma.
Lalu kepada siapa kita dapat berharap?
Tiada lain kepada Cinta. Seperti dinyatakan Jalaluddin Rumi "karena Cinta duri menjadi mawar". Menjadi pertanyaan besar bagi diri ini, adakah saat shaum ini, Cinta menjadi Raja di hati atau justru Angkara Murka berbangga di Singgasana.
Pun Sapun Ampun Paralun
Asep Haerul Gani, Psikolog

Sumber:
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1365567900126865&set=a.212126032137730.69072.100000210054177&type=3&theater
Asep Haerul Gani, Psikolog



Previous
Next Post »