KARYA SASTRA SUNDA KINI BERBENTUK DIGITAL

Data sastra Sunda selama 50 tahun dari 1966 hingga 2016 kini sudah dapat diakses secara digital. Data sastra tersebut meliputi puisi, prosa, dan nonfiksi. Untuk data sastra nonfiksi meliputi esai dan laporan jurnalistik. Terdapat juga dongeng untuk orang dewasa dan anak-anak. Jumlahnya mencapai 53.000 data, hasil karya dari 2.000 pengarang yang tersebar di 32 media. 

Program sastra Sunda digital tersebut diluncurkan Pengurus Paguyuban Sastra Sunda (PPSS) bekerja sama dengan Universitas Padjadjaran Bandung pada peringatan Milangkala Satengah Abad PPSS di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Jalan Rumentang Siang, Bandung, Senin (28/3/2016).
Hadir pada kesempatan tersebut pendiri PPSS Ajip Rosidi, Dekan FIB Unpad Yuyu Yohana Risagarniwa, Ramdan Panigoro, para sesepuh dan pendiri PPSS. Terpilih juga Ketua PPSS yang baru Cecep Burdansyah.

Dadan Sutisna selaku inisiator penyusunan data sastra digital menjelaskan, data sastra Sunda selama 50 tahun masih dalam keadaan tercecer. Para peneliti ataupun masyarakat pada umumnya merasa kesulitan saat memerlukan data sastra Sunda, baik untuk keperluan penelitian ataupun pendataan. 

Contohnya koran Sipatahunan, dokumentasi ini sudah hilang dan hanya ada di Prancis. Atau tabloid Galura, dokumentasinya yang tersisa hanya dari tahun 2013 padahal tabloid anak perusahaan PT Pikiran Rakyat ini sudah berusia 24 tahun.

Demikian juga dengan majalah Mangle, beberapa edisi masih terdokumentasikan. Namun, setelah kepemilikan majalah tersebut berpindah tangan, dokumentasinya tidak jelas. “Intinya dokumentasi sastra Sunda dalam keadaan kritis. Inilah yang mengharuskan saya untuk segera melakukan pendokumentasian sastra Sunda secara digital,” katanya.

Dalam karya sastra menurut dia, pembaca tidak hanya melihat genre (wangunan) karya tetapi juga memperoleh informasi zaman pada saat karya tersebut ditulis. Oleh karena itu, pendokumentasian karya sangat penting karena dokumentasi dapat menjadi sumber penelitian, dasar pengembangan, dan menyelamatkan karya sastra itu sendiri.

Proses pengerjaan dokumentasi ini, lanjut dia, dilakukan sejak dua tahun lalu secara mandiri baik secara pendanaan maupun pengelolaan. Untuk pengelolaan dibantu para sukarelawan. Dalam tempo tersebut sudah hamper 80 persen pendataan selesai. Sebanyak 50 persen sudah dapat diakses secara digital dan sisanya masih dalam proses.

Pendiri PPSS Ajip Rosidi mengatakan, orang Sunda harus bangga menjadi orang Sunda. Orang Sunda harus membaca bacaan berbahasa Sunda. Karya ini merupakan karya orang Sunda dan penting bagi orang Sunda sekarang dana yang akan datang.

Ajip mengaku kaget ternyata, terdapat 2.000 pengarang. Itu artinya, banyak karya yang sudah dibuat tapi persoalannya orang Sunda tidak bangga dan tidak suka membaca.



Penulis: Eriyanti Nurmala Dewi
Dikutip dari Pikiran Rakyat, Selasa (PON) 29 Maret 2016, 20 Jumadil Akhir 1437 H. Hal. 4


Previous
Next Post »